Losar-Peleburan Agama Bon Dan Buddha Dalam Tahun Baru Di Negara Himalaya.

Festival losar

design by canva.com

Losar merupakan perayaan tahun baru di Tibet . Orang-orang yang merayakan Losar tidak hanya orang Tibet, tetapi juga orang-orang di sekitar wilayah tibet dengan waktu dan tata cara yang berbeda. Perayaan ini terjadi pada bulan Februari atau Maret. Sekilas esensi dari perayaan ini mirip dengan hari raya galungan milik umat hindu dan idul fitri di agama muslim. Festival ini pun mengundang banyak wisatawan yang ingin menyaksikan kemeriahannya. Apa saja daya tarik di perayaan tahun baru ini?

Losar Yang Ada Sebelum Buddha.

Tradisi Losar ini sebenarnya sudah ada sebelum adanya agama buddha. Agama tersebut adalah agama Bon di Tibet. Bon sebenarnya sejenis kepercayaan dengan ciri-ciri seperti sebagian besar berhubungan dengan sihir, pemujaan terhadap raja yang dianggap sebagai keturunan dewa atau utusan langit. dan kepercayaan terhadap dewa-dewa atmosfer, bumi, dan wilayah bawah tanah. Pada abad ke-8 terjadi pergulatan antara orang yang menganut agama buddha dan juga kepercayaan bon. Walaupun Raja Khrisong Detsen menghapus kepercayaan Bon ini pada akhir abad ke 8, kepercayaan itu tidak sepenuhnya hilang dan justru menyatu dengan agama buddha. Ini lah kisah awal tradisi Losar.

Baca juga:  Mardi Gras, Asal Tradisi Karnaval Yang Mendunia !

Kata Losar berasal dari bahasa Tibet dimana “Lo” artinya baru dan “Gsar” artinya tahun sehingga jika bergabung menjadi tahun baru. Tidak hanya Tibet, negara Bhutan dan wilayah sekitar Tibet juga merayakan festival ini dengan tardisi yang berbeda-beda. Esensi dari perayaan ini menggambarkan kemenangan dari hal-hal yang baik terhadap hal-hal yang buruk. Pada saat festival ini para warga memanjatkan doa, pergi ke kuil dan berkumpul dengan keluarga.

Festival Meriah Dan Tradisinya

Orang-orang Tibet dan sekitarnya merayakan Perayaan tahun baru losar ini antara bulan Januari dan Maret. Perayaan ini menjadi salah satu festival terpenting dalam periode tertentu dan berlangsung selama dua minggu (15 hari). Meski tidak ada tanggal pasti, namun akan tetap sesuai dengan Kalender Lunar. Perayaan ini berlangsung selama tiga hari dengan kegiatan yang berbeda-beda.

  1. Hari pertama : Para wanita biasanya bangun pagi-pagi untuk mengambil air di sumur untuk berbagai keperluan dan malam harinya akan berkumpul bersama dengan keluarga.
  2. Hari kedua: Orang mengunjungi kerabat dengan membawa sajian dan saling memberkati. Mereka kemudian duduk bersama memakan sajian ‘tsampa’, barley, (sejenis anggur) dan makanan lain untuk menikmati tahun baru.
  3. Hari ketiga, penduduk setempat mengunjungi kuil-kuil dengan persembahan berupa rempah-rempah, mulberry, dan barley untuk berdoa mendoakan kesejahteraan dan memohon berkat.
Baca juga:  Ikigai (Konsep kehidupan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Jepang)

Pada hari-hari dalam perayaan ini akan banyak orang baik pria dan wanita yang mengenakan pakaian tradisional mereka serta mereka akan berkumpul di alun-alun kota. Tiap kota memiliki tradisinya masing-masing. Ambil salah satu contoh di kota Kongbo. Orang-orang Kongbo memiliki tradisi dalam memberi makanan pada anjing berupa roti gandum (cuo) atau makanan lain yang mereka letakkan dalam piring kayu. Mereka percaya apa yang anjing mereka makan akan memberikan ramalan apa yang akan terjadi pada tahun mendatang.

Source:
chinahighlights.com
britannica.com

KOTAK POS