I Want To Die But I Want To Eat TTeopokki 2. Edisi Klimaks Dari Penyintas Depresi.

Resensi I Want To Die But I Want To Eat Tteopokki 2

Review buku kali ini membahas judul buku yang sudah tidak asing lagi yaitu I Want To Die But I Want To Eat Tteopokki. Buku ini bahkan sudah terbit dalam dua buku berseri, seri pertamanya sudah pernah dinda pranata bagikan sebelumnya. Buku yang menceritakan tentang kisah nyata penyitas depresi ini menjelaskan bagaimana depresi bisa mempengaruhi cara pandang seseorang dalam berbagai aspek kehidupan. Bagaimana kisah di buku seri keduanya?

Depresi Itu Bisa Kambuh, Walau Sudah Dinyatakan Baik-Baik Saja Sekalipun.

Buku pertama dari I Want To Die But I Want To Eat Tteopokki ini, kisah Baek Se Hee (sang penyintas depresi) hanya terlihat seperti konsultasi biasa kepada psikiater. Dari buku pertama, sangat jelas terlihat bahwa penderita mengalami berbagai permasalahan kepribadian sehingga membuatnya merassa kesulitan menghadapi diri dan lingkungannya. Akibatnya dokter perlu memberikan obat anti depresan dan penenang untuk mengatasi masalahnya. Setelah menjalani beberapa kali konseling kondisi penderita ini sudah cukup membaik, sehingga ia tidak perlu kembali ke psikiaternya kecuali kondisinya mulai memburuk.

Baca juga:  Buku Ini Bercerita Seni Bergaul Itu Tidak Harus Merubah Diri Kok!

Sayangnya Baek Se Hee kembali lagi merasakan kondisi yang mengharuskannya untuk menemui psikiaternya yang ia ceritakan dalam buku keduanya. Dalam percakapan-percakapannya dengan psikiaternya, ia merasa mulai tidak bisa memandang dirinya dengan baik dan merasa tertekan dengan lingkungan sekitarnya. Ia pun sering mengalami perasaan muram, sedih berkepanjangan, kesulitan dalam mengatur emosi-emosinya yang membuatnya merasa tidak berharga lagi dan berpikir untuk mengakhiri hidup.

Titik Mula Dari Luka Hati Yang Kemudian Berkembang Jadi Depresi dan Keinginan Bunuh Diri.

Dalam buku pertama dan kedua sama-sama menjelaskan penderita memiliki gangguan psikologis. Hal tersebut berawal dari latar belakang keluarga yang mengalami kekerasan secara mental dan fisik sehingga menimbulkan luka hati yang tidak selesai. Ia menjelaskan itu dalam kata pengantar dalam buku keduanya bahwa semakin sering ia menjalani perawatan, luka dalam dirinya semakin memudar dan menghilang. pada sisi lain, ia menemukan bahwa dirinya semakin mudah sakit sebab luka yang telah lama terpendam bisa muncul kembali dengan mudah, membuatnya semakin larut dalam depresi. Terlihat jelas dari bagaimana ia mudah merendahkan diri sendiri jika melakukan kesalahan, dan terobsesi dengan bagaimana orang lain melihatnya sehingga tidak bisa melihat dirinya dengan secara positif. Orang-orang yang memiliki kecenderungan seperti ini mudah terluka sangat dalam karena membenarkan pandangan orang lain sebagai tolak ukur tentang diri mereka.

Baca juga:  Si Pandai Dan Si Bodoh

Dalam klimaksnya ketika penderita ingin keluar dari pekerjaannya karena ia ingin menyelesaikan bukunya tetapi tidak mendapat dukungan dari tempatnya bekerja. Ia terus memikirkan hingga merasa terluka dan berniat untuk bunuh diri. Alih-alih bunuh diri, ia malah membuat luka pada tubuhnya sendiri. Dalam dirinya ada dua suara yang saling bertentangan antara ia ingin mati dan ia masih ingin hidup (ciri khas orang yang mengalami depresi). Mereka ingin mendapatkan cinta tetapi mereka juga ingin menjauh, ingin mati tetapi juga ingin hidup, dan lain sebagainya.

sebagaimana depresi membuat kita kehilangan semangat dan tidak ingin melakukan apapun, depresi membuat kemampuan kita memburuk, kemampuan fokus kita menurun, kemampuan mengingat juga menurun. Hasil pemeriksaan IQ pun akan menunjukkan penurunan kentara

I want to die but i want to eat tteopokki Hal 98

KOTAK POS