Resensi Buku Yang Belum Usai

Ani sedang duduk di pojokan kamarnya di hari Senin yang cukup panas dengan es susu coklat di tangannya dan sebuah buku yang menjadi temannya di masa pandemi. Kacamata bulatnya yang bertengger di mata dan alisnya sedikit berkerut sambil berkata “Lukaku memang masih segar, tapi itu manusiawi.” Ia menatap sampul buku yang berjudul ‘yang belum usai’ itu.

Hati Manusia Seperti Kain Perca.

Manusia sejatinya mudah terluka dan itu adalah fakta. Hati yang dimiliki manusia layaknya kain perca yang ditambal di sana sini karena sayatan-sayatan luka batin di masa hidupnya. Jika kita mengeluh hidup kita menderita karena luka juga hal yang normal, karena memiliki luka batin adalah hal yang manusiawi. Tapi jika Luka batin tidak diolah dengan baik, maka akan menyebabkan kita memiliki negative core believe atau keyakinan yang salah.

Permasalahan saat kita memiliki luka batin, kita cenderung membiarkan waktu yang menyembuhkan namun tidak benar-benar disembuhkan dengan baik. Seseorang yang belum bisa mengobati lukanya akan membuat mereka susah dalam menjalani kehidupan. Itulah mengapa orang yang mengalami masalah kesehatan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, trauma, hingga kasus bunuh diri bisa dipastikan memiliki luka kehidupan yang belum sembuh tapi harus tergores dengan luka lain lagi.

Baca juga:  Resensi-Santai Aja, Namanya Juga Hidup. Komik Ringan Tentang Kehidupan!

Luka batin banyak dikaitkan dengan dampak dari pola asuh dan kurangnya kedekatan anak dengan orang tua. Pola pengasuhan yang baik akan membuat anak tumbuh dengan emosi dan pribadi yang lebih matang di masa dewasa.

…Salah satu kelekatan yang bisa menjadi fondasi anak tumbuh menjadi seseorang yang sehat secara mental adalah pola kelekatan yang aman (Secure attachment). Kelekatan yang aman terjadi ketika pengasuhan anak berfokus pada kehadiran baik secara fisik maupun emosi, sensitif dan responsif, yang menerima dan bekerja sama, mementingkan kepercayaan serta kompetensi…

Yang belum usai halaman 22

Luka Batin Perlu Disembuhkan.

Luka batin tidak bisa dibiarkan begitu saja. Ia perlu diberi obat dan balut lukanya agar sembuh layaknya luka fisik. Tentu saja hal ini perlu waktu dan usaha. Jika kita hanya membiarkan waktu saja yang menyembuhkan tanpa membalutnya atau mengobatinya dengan benar, maka luka itu tidak akan pulih. Banyak orang yang masih menyepelekan masalah luka batin atau psikis, padahal luka psikis lebih sulit untuk dilihat.

Baca juga:  Pojok Literasi-Resensi The Danish Way Of Parenting: Pola Asuh Anak Berkarakter.

Penyembuhan luka batin bisa dilakukan dengan bantuan konseling atau menyembuhkan dengan kekuatan diri sendiri yang biasa disebut self healing. Tahapan self healing antara lain dengan mengenali dan menyadari kehadiran luka psikis, menghargai dan menerima kehadiran luka psikis, dan menyadari emosi yang timbul akibat luka ketika dihadapkan oleh situasi memunculkan luka batin itu.

Pada saat melakukan self healing ini, kita akan berkenalan dengan diri sendiri. Kita pun akan sadar akan apa yang kita rasakan, apa yang kita butuhkan setelah kita bisa menerima segala macam emosi yang dirasakan. Kemampuan untuk mengenali dan memahami diri kita secara penuh disebuh dengan self awarness. Untuk memiliki kemampuan ini kita bisa melakukan meditasi atau menulis buku harian.

Ani pun menutup buku yang baru saja dibacanya itu di bawah jendela. Di pojokan kamarnya dengan jendela besar yang menghadap ke taman, ia merenungkan apakah ia sudah mengobati luka batinnya dengan baik? atau selama ini ia hanya menyerahkan kepada waktu sampai ia lupa luka batinnya, tanpa mengobati dengan cara yang benar. Ia pun menghela nafas panjang dan berkata “Aku ingin menerima diriku apa adanya bukan ada apanya.” Ujarnya kemudian.

Baca juga:  Resensi 21 Lessons - Ketakutan Manusia Abad 21. Apakah Dunia Semenakutkan Itu?

Bagi kalian yang sudah membaca buku ini atau ingin merekomendasikan buku lain untuk diulas, silahkan komen pada kolom komentar ya!

KOTAK POS