Resensi Santai Aja, Namanya Juga Hidup

design by canva.com

Di Pojokan sepulang dari rutinitas kantor, Dea sedang menikmati segelas es teh. Maklum cuacanya sangat panas di hari senin, walau jam sudah menunjukkan pukul 4 sore dan terik matahari masih terasa di luar. Dengan sebuah buku yang berjudul “Santai Aja, namanya juga hidup” di tangannya, ia membaca di pojokan sambil tertawa geli dan sesekali menghela nafas panjang.

Hidup Ini Penuh Masalah Namun Santai Saja!

Dalam buku ini ceritanya berbentuk anekdot (kisah-kisah hewan) dimana menceritakan si tokoh utamanya yaitu pinguin yang sedang berpetualang karena merasa hidupnya terlalu datar. Dalam perjalanannya ia ditemani seekor ikan mas yang cukup bijaksana dan menghibur setiap Pinguin ini merasa resah. Perjalanan panjang pinguin dan ikan mas itu pun banyak menemui hal yang kesannya remeh tapi justru membuat pinguin ini merenung.

Setiap hewan yang ia temui menceritakan masalahnya, ada yang larut dalam perasaan bersalah, sedih, senang, bosan, takut dan masalah yang lain. Pinguin itu pun menyadari bahwa hidup itu penuh masalah dan semua pasti menghadapinya. Tidak perduli kau sendirian atau bersama dengan seseorang. Masalah itu sesuatu yang normal dan cara kita menghadapinya akan menjadikan hidup kita lebih berwarna.

Baca juga:  Konstruksi Feminitas Dan Maskulinitas Wanita Di Novel The Grand Sophy Karya Georgette Heyer

Gagal, Sedih, Senang, Takut Adalah Hal Yang Normal!

Kadang kita terlalu keras pada diri sendiri ketika mendapatkan kegagalan, kesedihan, rasa takut, atau melakukan kesalahan. Dalam buku ini banyak hewan yang dijumpai oleh pinguin mengalami hal yang serupa. Hal yang terjadi itu pun sangat normal dan wajar dalam hidup kita sehingga tidak perlu terlalu keras menghukum atau menghakimi diri sendiri bahkan sampai lupa bahwa kita masih menjalani kehidupan.

…. seperti yang kamu bilang karena paus sudah pasti tinggal di laut, paus juga bisa lupa sama hal-hal penting yang ada di dalamnya. Kita bisa lupa sama makna cinta padahal saat itu lagi cinta sama orang. Kita juga bisa lupa sama hidup padahal kita lagi jalani hidup. Oleh karena itu, kita perlu jaga jarak untuk terus lihat-lihat ke belakang

Santai aja, namanya juga hidup! hal 300-301

Sesekali melihat kebelakang juga perlu untuk mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan atau pencapaian apa yang sudah kita raih. Tapi, terlalu sering melihat masa lalu akan membuat diri kita lupa akan keberadaan masa kini yang juga bagian dari masa depan. Tengoklah kebelakang bukan untuk mengasihani diri sendiri atau meratapi hal yang sudah terjadi, tetapi sebagai pijakan untuk menjalani masa kini dengan lebih baik.

Baca juga:  Resensi Habis Gelap Terbitlah Terang Sebuah Seruan Tentang Tradisi Dan Agama .

Setelah menyelsaikan buku itu, Dea duduk termenung di pojokan sambil melihat langit senja dimana matahari mulai turun secara perlahan. Ia sadar bahwa ia terkadang terlalu menghakimi diri sendiri dan selalu merasa bersalah jika ada kegagalan dalam pekerjaannya.
“Mungkin aku terlalu keras pada diriku!” Ujarnya dalam hati sambil tersenyum simpul dan menutup bukunya. Ia meletakkannya di bawah jendela dan menengok pada jam dinding di belakangnya yang sudah menunjukkan pukul 5 sore.

Adakah dari kalian yang sudah membaca buku ini? Bagaimana menurut kalian tentang buku ini? Relevankah dengan kisah kalian? Kalian bisa komen di bawah ya!

KOTAK POS