Resensi-Segala-galanya Ambyar. Ambillah Pandangan Realistis Di Dalamnya.

Segala-Galanya Ambyar

Resensi dari buku segala-galaya ambyar karya Mark Manson ini menarik untuk dibaca. Hanya saja ada beberapa point yang perlu diperhatikan ketika pembaca sudah ada di bagian inti dari buku ini. Pemikirannya realistis tentang bagaimana menyikapi kehidupan yang semakin pesat dan maju. Lalu apa sisi realistis dan sisi gelap dari buku ini?

Pemahaman Tentang Agama Spiritual Yang Sedikit Kabur.

Tidak seperti buku pertamanya yang berjudul sebuah seni untuk bersikap bodo amat. Buku kedua ini sedikit memiliki pengartian yang berbeda tentang agama khususnya agama spiritual. Ia menggambarkan agama ini secara gamblang dan seolah memukul rata pandangan suatu agama itu sama dengan yang lainnya. Pandangan mengenai agama yang ia kemukakan di bukunya ini, lebih cocok di negara yang memiliki ideologi tertentu.

Agama-agama spiritual juga sangat kuat karena mereka sering mendorong orang untuk memiliki harapan yang mengatasi kematian, yang memiliki efek samping yang baik, yang memampukan orang untuk rela mati demi keyakinan-keyakinan yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Sangat susah bersaing dengan tipe ini.

Mark Manson, Segala-galanya ambyar hal.123

Pandangan mengenai agama spiritual jika digambarkan secara umum bisa menghasilkan asumsi berbeda dibandingkan kita melihat ke dalam agama tersebut. Di dalam agama spiritual sendiri pun ada banyak pandangan yang berbeda dalam menilik pengikutnya seperti aliran radikal, moderat atau sebagainya. Sehingga, dalam buku ini pembaca perlu menggaris bawahi penjelasan mengenail agama spiritual yang dikemukakan oleh penulis dan mengambil gambaran mengenai agama selain spiritual yang tersirat dalam buku ini.

Baca juga:  Resensi 21 Lessons - Ketakutan Manusia Abad 21. Apakah Dunia Semenakutkan Itu?

Pemahaman Yang Realistis Tentang Harapan, Derita Dan Kemanusiaan.

Ada banyak pandangan yang dikemukakan oleh kaum optimistik mengenai harapan. Di buku ini Mark Manson berusaha menjelaskan bahwa tidak ada yang melarang seseorang untuk berharap. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika seseorang berharap tetapi tidak mampu menerima penderitaan yang mungkin datang saat kita berharap sesuatu. Sama halnya ketika seseorang berharap memiliki pasangan tapi tidak siap untuk ditolak oleh orang yang dicintai atau tidak siap untuk patah hati.

Pada dasarnya hidup ini berputar tidak seorang pun akan terbebas dari penderitaan walaupun ia memiliki harapan untuk bahagia. Contohnya jika kita sudah berhasil menjadi dokter dan merasa bahagia, tetapi di lain sisi profesi dokter membuat kita harus bekerja hampir 24 jam ketika wabah corona seperti ini datang dan pada akhirnya kita merasa menderita. Itulah yang penulis katakan sebagai pengharapan palsu. Harapan dimana seseorang tidak mampu memeluk serta penderitaan yang menjadi realita kehidupan.

Baca juga:  Resensi - Quiet Impact! Tak Masalah Menjadi Orang Introver. Mereka Pun Butuh Diterima!

Orang yang terjebak dalam harapan palsu biasanya mudah melakukan tawar menawar keadaan pada sesama manusia. Tawar menawar keadaan sama halnya dengan proses jual beli, kamu bayar aku dapat barang. Contohnya ketika seseorang berbuat baik pada orang lain dan disana dilakukan atas dasar tawar menawar keadaan maka seseorang itu akan berkata “aku akan membantu orang itu, karena jika aku membantu esok aku akan dibantu oleh orang lain juga.” Padahal belum tentu kamu akan mendapatkan pertolongan yang sama seperti orang yang kamu tolong. Hal yang baik dalam berhubungan dengan orang lain adalah bersikaplah tulus dan ini memang sangat TIDAK MUDAH.

…bahwa keintiman tidak lebih dari sebuah kepekaan palsu akan kebutuhan orang lain demi saling mendapat keuntungan timbal balik, bahwa semua individu pada dasarnya adalah alat untuk memenuhi pamrih tiap orang…

Susahnya melakukan sesuatu tanpa pamrih. Anda mencintai seseorang dan tahu bahwa orang itu tidak akan membalas cinta anda. Tapi anda toh tetap melakukannya…

Mark Manson, Segala-galanya ambyar hal 197.

Dalam buku ini penulis sendiri memberikan saran untuk tidak berhubungan dengan sesama manusia dengan pendekatan tawar menawar atau transaksional seperti itu. Arahkan tujuan dalam bersosialisasi dengan manusia lain atas dasar kemanusiaan sebagai tujuan dan bukan kemanusiaan atau hubungan itu sebagai sarana/alat. Dengan begitu kita dengan bebas terhindar dari pengharapan palsu akan hubungan timbal balik yang semu.

Baca juga:  Resensi-Quarter Life Crisis. Dilema Para Kaum Dewasa Muda.

Adakah yang sudah membaca buku ini dan Bagaimana menurutmu ?

KOTAK POS