Asal Stigma Sosial-Kondisi Sosial Di Tengah Pandemi Virus Corona.

Stigma Sosial

Virus corona yang penyebarannya masif dan cepat ini per hari ini sudah menginfeksi 1 Juta lebih orang di seluruh dunia. Bahkan kondisi persebaran yang ada di Indonesia sudah meluas dan tak jarang penderita, hingga tenaga medis yang ada di garis depan menerima perlakuan yang tidak manusiwi akibat stigma negatif tentang virus ini. Salah satunya adalah bagaimana penguburan jenazah warga yang terkena virus corona di Jawa Tengah serta pengusiran tenaga medis menjadi sorotan banyak pihak. Sebenarnya apa itu stigma sosial dan darimana asalnya?

Stigma Merupakan Penanda!

Kata stigma sebenarnya berasal dari bahasa latin yang diartikan sebagai penanda budak atau penjahat. Dalam perkembangannya kata ini tidak hanya digunakan sebagai penanda budak atau seorang kriminalis, tetapi juga orang-orang dengan penyakit mental hingga kondisi psikologis dan fisik yang berbeda dari orang yang normal.

Erving Goffman, seorang sosiolog abad ke 20 yang berkarir di Universitas Pennsylvania mengartikan konsep stigma modern dengan lebih jelas sebagai atribut pribadi atau pandangan diri yang dibentuk atas identitas sosial yang ada di masyarakat. Dalam bukunya tahun 1963 Notes on the Management of Spoiled Identity mengemukakan bahwa stigma yang ada di masyarakat bisa diukur dari ‘normal’ hingga ‘terkucilkan’. Dimana orang yang mendapatkan perlakuan dari stigma bisa merasakan tekanan psikis.

Baca juga:  Shine Teori : Masih Minder Berteman Dengan Yang Lebih Baik? Perlu baca ini!

Selama beberapa tahun belakangan ini, penelitian stigma tidak hanya mengarah pada stigma sosial saja tetapi juga jenis stigma lain seperti stigma tentang diri sendiri. Stigma yang marak terjadi adalah stigma yang menyangkut masalah kesehatan yang bisa berpengaruh secara sosial dimana orang yang sakit akan mengalami diskriminasi atas penyakitnya dan stigma individu yang menyangkut pandangan diri seseorang atas penyakit yang dideritanya. Salah satunya pada kasus pasien corona, jenazah pasien corona dan tenaga medis yang menangani virus ini. Tidak hanya itu, stigma lain yang masih ada seperti bagaimana orang memandang pasien dengan HIV AIDS, atau dengan pekerjaan tertentu.

Stigma Bersifat Negatif.

Stigma tidak hanya berdampak pada orang yang terkena stigma tetapi juga berdampak bagi lingkup masyarakatnya sendiri. Bagi yang memperoleh stigma dampaknya bisa besar bisa berupa gagalnya proses penyembuhan bagi yang sakit, perasaan malu yang menyebabkan penerima mengisolasi diri dan bersikap anti sosial, hingga munculnya depresi. Sedangkan dampak bagi masyarakat yang memberikan stigma bisa mendapatkan cap sebagai pihak yang tidak manusiawi hingga diskriminatif.

Baca juga:  Konsumerisme Meningkatkan Pemanasan Global. Kok Bisa Sih ? Ini Temuannya !

Hal yang perlu dilakukan untuk menghilangkan stigma tidaklah mudah. Orang-orang yang memberikan stigma perlu diberikan edukasi mengenai alasan mereka memberikan stigma pada suatu kasus. Edukasi bisa diberikan dengan cara sosialisasi hingga kampanye lewat media. Stigma tidak mudah dihapuskan karena itu menyangkut pemikiran manusia yang begitu kompleks sehingga membutuhkan waktu dan upaya yang besar.

Jadi, sebelum memberikan stigma pada suatu kasus lebih baik mencari infonya terlebih dahulu. Sudah siap berhenti memberikan stigma?

Source:
verywellmind.com
joho.org
psychologytoday.com
health.harvard.edu

KOTAK POS