Marbug Virus-Virus Paling Mematikan Di Dunia!

Marburg Virus

Mendengar kata virus pasti dalam benak kita teringat akan pandemi yang terjadi yaitu Virus corona yang menyebabkan kepanikan di beberapa tempat. Namun, selain virus corona atau yang dikenal dengan COVID-19 ini ada jenis virus yang paling mematikan di dunia dengan tingkat kematian lebih dari 85%. Virus ini bisa menyebabkan kematian dengan masalah serius pada orang yang terinfeksi. Virus macam apa ini dan mengapa bisa berbahaya seperti itu?

Virus Yang Menyerang Jerman

Virus ini pertama kali menyerang di tahun 1967 di Jerman wilayah Marburg dan Frankfrut serta di Yugoslavia. Virus ini menyerang bersamaan dengan demam berdarah dan pertama kali menyerang pekerja laboratorium serta tenaga medis. Sebanyak 31 orang terinfeksi yang termasuk di dalamya tenaga medis, pekerja laboratorium dan juga keluarga yang merawat pasien.

Virus ini termasuk jenis virus zoonosis dimana media perantaranya adalah hewan. Yang menjadi inang dari virus ini adalah kelelawar buah (Rousettus aegyptii) yang kemudian ditularkan menalui hewan seperti kasus awal penyakit ini yaitu monyet hijau. Monyet hijau yang diimpor dari Uganda saat itu dijadikan penelitian oleh sekelompok pekerja laboratorium di Jerman dimana mereka bersentuhan dengan darah, organ atau kultur sel dari monyet tersebut. Namun, setelah dilakukan penelitian nyatanya bukan monyet yang menjadi inangnya, lantas mengapa justru monyet yang menjadi pembawa saat terjadi kasus di Jerman? Monyet merupakan spesies yang mudah terserang virus marburg ini, namun rata-rata monyet yang terinfeksi cepat mati dan hanya beberapa yang bisa hidup.

Baca juga:  TanyaKenapa-Ada Cahaya. Ternyata Ini Sebenarnya!

Penyebaran dan Gejalanya!

Persebaran virus ini terbanyak ada di wilayah Afrika seperti Kenya, Zimbabwe, dan Afrika Selatan. Sedangkan yang dibawa ke Eropa seperti Yugoslavia dan Jerman berasal dari hewan imigrasi serta orang yang melakukan perjalanan dari wilayah endemi. Tingkat kematian dari virus ini mencapai 23-85% lebih. Virus ini menginfeksi manusia dengan masa inkubasi 5-10 hari. Biasanya manusia yang terinfeksi akan jarang bisa dideteksi karena gejalanya hampir mirip dengan penyakit malaria atau demam berdarah. Namun, pada hari ke lima atau setelahnya gejalanya akan semakin parah yang ditandai dengan mual, muntah, nyeri dada hingga diare dan jika tidak segera ditangani virus ini bisa menyebabkan masalah fatal pada organ seperti gagal hati, peradangan hati, hingga kematian.

Baca juga:  Kedai Teh Gunung Hua Di Cina Ini Merupakan Kedai Paling Berbahaya. Ini Sebabnya!

Virus ini mudah sekali menular pada manusia lain dengan cara bersentuhan, terkena cairan dari penderita seperti melalui keringat atau berbagi benda seperti handuk atau pakaian mudah tertular dengan penyakit ini. Orang yang berhubungan langsung dengan hewan inangnya seperti kelelawar akan rentan terhadap virus ini. Tidak ada pengobatan khusus dari penyakit ini, tindakan medis yang dilakukan dengan menyeimbangkan elektrolit pada tubuh, menstabilkan oksigen hingga tranfusi darah. Hingga saat ini, para peneliti sedang mencari obat dan vaksin untuk virus ini.

Pencegahan dari virus ini dengan tidak melakukan perjalanan ke daerah endemi, menghindari kontak langsung dengan orang yang terinfeksi baik. Mereka yang terinfeksi harus diisolasi di ruangan khusus dan orang yang merawat diwajibkan menggunakan pelindung atau APD. Demam yang disebabkan oleh virus ini sangat langka, namun jika itu menyebar bisa sangat membahayakan nyawa. Jadi, tetap waspada terhadap kesehatan dan selalu menjaga diri agar selalu bersih.

Baca juga:  Salar de Uyuni, Sebuah Tempat Dengan 'Cermin' Terluas Di Dunia

Source:
gov.uk
who.int
cdc.gov

Ada komentar, ketikkan dibawah ini.