#Resensi – Filosofi Teras. Jangan Bermain-Main Dengan Mindsetmu!

Memang benar mindset atau pikiran membawa pengaruh besar tidak hanya pada psikologis tetapi juga fisik. Istilah pepatah yang mengatakan dalam pikiran yang sehat terdapat jiwa yang kuat memang benar adanya. Disini sudah terlihat bagaimana pikiran bisa membawa dampak pada kondisi kesehatan seseorang. Maka jangan bermain-main dengan mainsetmu! Dalam #resensi filosofi teras yang akan dibahas ini menjelaskan bagaimana pikiran berpengaruh pada pola hidupmu.

Terkait #Resensi :
#Resensi – Totto Chan’s Children. Kisah Kemanusiaan Di Negara Konflik
#Resensi Habis Gelap Terbitlah Terang Sebuah Seruan Tentang Tradisi Dan Agama .

#Resensi Why Men Want Sex and Woman Need Love. Cara Kerja Otak Pria Dan Wanita Dalam Melihat Cinta.

Hasil gambar untuk filosofi teras
Filosofi Teras by http://www.gramedia.com

Berawal Dari Kapal Karam Seorang Pelaut

Pada tahun 300 SM seorang pelaut bernama Zeno melakukan perjalanan dari Phoenicia menuju ke Peiraeus melewati lautan mediteran yang luas. Namun, di tengah perjalanan ia mengalami musibah dan membuat kapal yang membawa barang dagangan karam di tengah lautan. Akibatnya ia terdampar di wilayah Athena Yunani.

Ketika terdampar ia mengunjungi sebuah toko buku untuk mencari buku-buku yang menarik tentang filsafat dan bertemu dengan filsuf aliran Cynic yang membuat ia belajar filosofi dari Crates dan filsuf yang lain. Kemudian, seteah ia memperoleh ilmu filosofi ia kemudian mengembangkannya dan memiliki aliran baru bernama Stoa. Ia mengajar pada sebuah teras berpilar yang kemudian dalam bahasa Yunani bernama Stoa (pengikutnya dikenal dengan Stoitisme)

Terkait #Resensi :
#Resensi Bangsawan Pribumi Juga Memiliki Andil Dalam Kesengsaraan Rakyat di Zaman Kolonial – Max Havelaar Karya Multatuli
#Resensi Pendidikan Karakter Di Episode Kisah Karya Tetsuko Kuronayagi – Novel Totto-chan

Filsafat yang bernama Stoa (Filsafat teras) ini memiliki tujuan hidup dengan mengendalikan emosi dan dengan kebaikan sebagaimana manusia. Dalam filsafat ini yang paling berpengaruh adalah akal pikran/mindset yang dimiliki manusia sehingga membuatnya berbeda dengan binatang.

Mindset Diolah Layaknya Masakan

Filosofi teras ini menitik beratkan pada kemampuan dasar yang dimiliki manusia yaitu pikiran / mindset. Hal ini dikarenakan pikiran manusia merupakan hal yang paling membuatnya istimewa dibandingkan makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Mindset manusia dapat diolah layaknya masakan hingga bisa mempengaruhi tindakan dan karakter dari manusia itu sendiri. Tak hanya itu, maindset berpengaruh besar terhadap segala perasaan yang timbul baik bahagia atau ketidakbahagiaan.

Seorang praktisi stoa seharusnya merasakan keceriaan senantiasa dan suka cita yang terdalam karena ia mampu menemukan kebahagiaannya sendiri dan ia tidak menginginkan suka cita yang lebih daripada suka cita yang datang dari dalam (Inner Joys)

Seneca (On Happy Live) – Filosofi Teras hal 27

Filosofi ini menekankan bagaimana kita untuk jangan bermain-main dengan mindset kita sendiri. Artinya kita tidak bisa sembarangan menggunakan pikiran tanpa diolah terlebih dahulu. Dengan mengolah pikiran, kita dapat mengendalikan segala emosi negatif yang datang dengan cara yang lebih bijak. Pikiran yang bijak akan mampu membedakan apa itu obyektifitas keadaan dengan persepsi (pandangan) keadaan. Serta, mampu menyadari dimana ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan tidak bisa kita kendalikan.

Terkait #Resensi :
#Resensi Budaya Patriarki Di Abad Pertengahan Lewat Tokoh di Grand Shopy Karya Geogrette Heyer
#Resensi Mendalami Sifat Alami Anak-Anak Lewat Karya Tetsuko Kuronayagi – Totto Chan.
#Resensi Very Good Lives – J.K Rowling (Lewat Imajinasi Lampaui Kegagalan)

Penyebab dari datangnya emosi negatif seperti marah, kecewa, sakit hati adalah karena kita terlalu menggantungkan diri pada hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan sehingga datanglah rasa-rasa itu. Tidak hanya itu, kita lebih sering memandang sebuah keadaan dari persepsi kita sendiri dibandingkan obyektifitas dari keadaan itu. Sebagai contoh saat ulang tahun, kekasih lupa mengucapkan selamat ulang tahun atau memberi hadiah. Persepsi kita bisa jadi ia tidak sayang, atau sengaja lupa (akhirnya baper atau marah-marah). Obyektifitas keadaan adalah kekasih lupa mengucapkan. Akhirnya kita marah-marah dan setelah tau alasan ia lupa karena ibunya atau keluarganya sakit kita kemudian menyesalinya. Selain itu, kita marah artinya kita menggantungkan kebahagiaan pada hal yang tidak bisa kendalikan yaitu pikiran atau keadaan orang lain.

Dengan pengelolaan mainset/pikiran yang bijak, maka rasa penyesalan ataupun emosi negatif yang menyita energi bisa terhindari. Oleh karena itu, jangan pernah bermain-main dengan mindset tanpa mengolahnya! It’s dangerous as well. Masih mau mencoba bermain-main dengan mindset yang salah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: