History · Literature

#Resensi Bumi Manusia – Pandangan Pramoedya Ananta Toer Terhadap Pergundikan Kolonialisme

#Resensi Bumi Manusia yang sebelumnya dibahas masih terkait dengan kisah cinta orang pribumi dan wanita anak nyai (peranakan Eropa dan Indonesia). Kali ini #Resensi membahas tentang bagaimana sang penulis memaparkan kondisi sosial di masa kolonialisme yang tidak adil bagi kaum pribumi sendiri. Padahal di negaranya di Belanda sistem ini pergundikan atau perbudakan benar-benar ditentang atas dasar kemanusiaan, dan bagaimana pandangan penulis lewat kisahnya!

Terkait #Resensi :
#Resensi Gambaran Kolonialisme Belanda Lewat Karakter Droogstopel Di Max Havelaar Karya Multatuli
#Resensi Bangsawan Pribumi Juga Memiliki Andil Dalam Kesengsaraan Rakyat di Zaman Kolonial – Max Havelaar Karya Multatuli
#Resensi Pendidikan Karakter Di Episode Kisah Karya Tetsuko Kuronayagi – Novel Totto-chan
#Resensi – Bumi Manusia, Sebuah Roman Cinta Pribumi Dan Peranakan Eropa.

Bumi Manusia
Bumi Manusia by http://www.wikipedia.com

Human Trafficking Ala Kolonialisme

Sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sistem perdagangan orang di zaman sekarang, hanya saja orang yang dijual pada masa itu digunakan sebagai budak atau simpanan para bangsa Belanda. Seperti yang ada pada kisah Nyai Ontosoroh yang dijual oleh ayah kandungnya dengan perjanjian bahwa Ayah kandung si Nyai tersebut mendapatkan jabatan atau kedudukan di perusahaan dagang tempat ia bekerja.

Terkait #Resensi :
#Resensi Le Petit Prince – Dilema Orang Dewasa Dalam Cerita Seorang Anak.
#Resensi Habis Gelap Terbitlah Terang Sebuah Seruan Tentang Tradisi Dan Agama .
#Resensi Habis Gelap Terbitlah Terang – Surat Kartini Yang Mengkritik Budaya Senioritas.
#Resensi Idealisme Kemanusiaan Pada Tokoh Max Havelaar. Apakah Kemanusiaan Kala Itu Benar-Benar Mati ?

Nyai tersebut merasa tidak adil oleh keputusan sang Ayah yang menjadikannya alat pertukaran seperti barang. Lelaki Belanda yang membelinya memang memperlakukannya dengan sangat baik, Nyai tersebut dididik, diberi pakaian yang layak, dan diberi kepercayaan dalam mengelola bisnis Tuannya yang bernama Herman Melema. Walau demikian, secara hukum sosial Nyai tersebut hanyalah budak yang dibeli oleh Tuannya sehingga tidak memiliki hak atas kepemilikan perusahaan yang dikelolanya.

… “Biarpun tuan mengawini nyai, gundik ini, perkawinan syah, dia tetap bukan Kristen. Dia kafir! Sekiranya dia kristen pun, tuan tetap lebih busuk dari Mevrouw Amelia Melema-Harmmers. ebih dari semua tuduuhan yang tuan tuduhkan pada ibuku. Tuan telah melakukan dosa darah, pelanggaran darah! mencampur darah Kristen Eropa dengan darah kafir Pribumi berwarna! Dosa tak terampuni !

Insinyur Maurits Melemma – Bab V hal 146

Hukum Eropa Lebih Menguntungkan Kaum Kulit Putih

Ketika Nyai Ontosoroh datang kepengadilan pada sidang kasus kematian tuan Melemma disaat yang bersamaan para hakim mempertanyakan status perkawinan Annalisse dengan Minke yang merupakan orang pribumi. Kisah cinta Annelisse dan minke disatukan dalam hubungan suami istri yang disahkan dalam perkawinan agama. Namun sayangnya dalam pengadilan hubungan mereka dianggap tidaklah sah dalam hukum yang berlaku saat itu.

Mereka ditertawakan dan dicemooh atas perkawinan itu. Nyai dan Minke berjuang keras atas pengadilan kasus kematian Tuan Mellema dan memperoleh kemenangan dimana mereka dinyatakan tidak tersangkut atas kematian Tuan Mellema. Sayangnya, atas pengadilan itu harta dan kelangsungan atas nasib Annelisse berpengaruh besar hingga terbitlah putusan agar Annelise dirawat oleh Mevrouw Amelia Mellema Hammers yang merupakan ibu tiri belandanya.

Terkait #Resensi :
#Resensi Budaya Patriarki Di Abad Pertengahan Lewat Tokoh di Grand Shopy Karya Geogrette Heyer
#Resensi Mendalami Sifat Alami Anak-Anak Lewat Karya Tetsuko Kuronayagi – Totto Chan.
#Resensi Very Good Lives – J.K Rowling (Lewat Imajinasi Lampaui Kegagalan)
#Resensi – Kisah Seorang Pedagang Darah. Krisis Kemanusiaan Di China Tahun 1960-an

Begitu berat perjuangan yang dilakukan oleh Minke sebagai suaminya dan Nyai Ontosoroh sebagai ibunya untuk memenangkan perkara hak asuh atas Annelise. Sayangnya mereka tidak dapat memenangkan kasus itu dan akhirnya Annelise harus ikut ke Belanda meninggalkan ibu tiri dan suaminya, Minke. Hal itu yang disebutkan pada bab 19 pada bab menjelang akhir dari Bumi Manusia.

Ku rasa sudah kuusahakan apa yang aku bisa, dan aku kalah. Pengadilan Amsterdam tak terlawankan, Pengadilan Putih Surabaya menyatakan : kami berdua tidak ada sangkut paut dengan istriku. Nyai sendiri dengan cekatan telah memerintahkan Panji Darman untuk berlayar, dahulu Jan Dapperste untuk belajar” mengurusi perdagangan rempah-rempah” menemani Annelise sebagai wakilku. ..

Minke, Bab 19 – Hal 523

Menurut Kalian bagaimana kisah Bumi Manusia ini ? Mengharukan sekaligus tragis bukan !

Bagi kalian yang memiliki pertanyaan seputar wawasan dunia bisa ditanyakan di kolom komentar. Kami akan membantu menjawab pertanyaan itu. Siapa tahu pertanyaan kalian bisa membuka wawasan bagi banyak orang.

2 tanggapan untuk “#Resensi Bumi Manusia – Pandangan Pramoedya Ananta Toer Terhadap Pergundikan Kolonialisme

  1. bagaimana kelanjutan hubungan antara ayah dan anak setelah mereka sebagai anak di jual…langsung putus hubungan atau bagaimana bosku ? mohon saran dan jawabannya makasi loh bosku …artikel diatas banyak membantu saya tentang kehidupan masusia jaman dahulu… Tq

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s