Siapa yang tidak tahu baterai lithium. Kebanyakan orang di dunia menggunakan baterai lithium ini untuk berbagai kepentingan. Tapi tahukah bahwa baterai ini memiliki dampak yang berbahaya bagi lingkungan. Baterai lithium yang kita pakai tidak bisa didaur ulang sehingga hanya akan menjadi tumpukan sampah. Lalu bagaimana solusinya?

Baterai Lithium
Baterai Lithium by http://smeng.ucsd.edu/supercapacitors/

Rahasia Dibalik Baterai Lithum

Seperti yang diketahui bahwa cara kerja dari baterai adalah adanya kutub positif yang disebut katoda dan kutub negatif yang disebut anoda yang bergerak saling mengisi satu sama lain. Prosesnya partikel eletrolit di katoda (kutub positif ) bergerak ke anoda (kutub negatif) untuk mengalirkan energi listrik ke perangkat.Lalu pada saat pengisian ulang baterai, eletroda dari kutub positif mengalir menuju kutub negatif untuk mengisi ulang dayanya.

Baterai Lithium memiliki keunggulan dimana ia tidak memakan banyak ruang. Ia juga memiliki kemampuan yang unggul dimana ia tidak cepat aus sehingga lebih awet dalam penggunaannya. Ia dapat diisi berulang-ulang tanpa ada kekhawatiran kerusakan baterai.

Sayangnya dibalik keunggulannya, ia juga memiliki kekurangan dimana tidak ramah terhadap lingkungan karena bahan kimia yang dipakai dalam baterai tidak bisa diuraikan secara alami. Selain itu, baterai ini juga mudah panas dan mengembang jika diisi ulang dalam waktu yang lama. Maka dari itu banyak kejadian dimana baterai meledak karena terlalu lama di charge.

Alternatif Baterai Lithium Sudah Ditemukan

Beberapa peneliti saat ini sudah menemukan senyawa kimia alterntif baterai yang dapat menggantikan Baterai Lithium. Mereka sedang mengembangkan agar baterai alternatif ini bisa sebaik baterai lithum. Penelitian yang dilakukan oleh tim Swiss Federal Laboratories for Materials Science and Technology menemukan bahwa Sodium dan Magnesium bisa menjadi bahan alternatif baterai.

Sodium : Ia memiliki kapasitas ion yang lebih besar dibanding dengan baterai lithium. Kandungan ini memiliki kemampuan dalam mengisi baterain tujuh kali lebih besar dibanding dengan baterai lithium. Apabila pembuatan baterai ini dikombinasikan dengan fosfor maka ia bisa menampung ion dari baterai ini.

Magnesium : Magnesium memiliki ion yang jauh lebih besar dibandingkan dengan lithium, karena senyawa ini memiliki ion positif dua kali lebih banyak, namun sayangnya harus pada suhu pengisian hampir 400 derajat dan masih dikembangkan dengan suhu yang lebih rendah

Amonia : Seorang peneliti di Australia menemukan bahwa amonia dapat digunakan sebagai bahan bakar. Kenyataannya amonia ini memiliki kepadatan yang baik dibandingkan dengan bahan bakar hidrogen. Saat ini penelitian yang dilakukan oleh MacFarlane’s  sedang berkerja untuk mengurangi efek gas rumah kaca dari senyawa ini.

Fluoride :
Baterai dengan senyawa ini bisa bertahan lebih lama dibanding dengan baterai lithium. Hanya saja baterai ini memiliki kandunga ion negatif lebih banyak sehingga tidak mudah distabilkan. Saat ini tim pengembang melakukan penelitian untuk menstabilkan panas dari baterai ini.

Menurut kamu mana yang akan dipilih, baterai ramah lingkungan atau baterai lithium ?

Bagi kalian yang memiliki pertanyaan seputar wawasan dunia, bisa ditanyakan di kolom komentar. Tim Editor akan membantu mencari tahu jawabannya. Siapa tahu pertanyaan itu membuka wawasan baru bagi banyak orang.

Source:
https://curiosity.com/topics/4-up-and-coming-batteries-that-could-overtake-lithium-ion-curiosity/
https://www.usatoday.com/story/money/energy/2017/10/17/sodium-batteries-new-challenger-lithium-ion-use-electric-vehicles/762388001/