Impostor Syndrom merupakan kekhawatiran seseorang ketika meraih kesuksesan atau keberhasilan. Siapa yang tidak senang jika mendapatkan keberhasilan dan kesuksesan pada apa yang dikerjakan. Namun berbeda dengan orang yang mengalami kondisi ini. Kondisi impostor syndrom ini merasa kesuksesan yang diperolehnya bukanlah hal yang patut ia dapatkan. Orang yang mengalami ini cenderung merasa tidak berharga ketika mendapatkan keberhasilan. Cukup aneh sih memang, ini lah sekilas tentang impostor syndrom.

Impostor Syndrom

Kondisi orang yang mengalami fenomena ini merasa dirinya tidak pantas mendapatkan kesuksesan dan tidak percaya pada dirinya sendiri. Mereka yang menderita fenomena ini berusaha menghindari pujian dari orang sekitarnya. Seperti  yang dikutip dari scientificamerican.com

Impostor Syndrome is a pervasive feeling of self-doubt, insecurity, or fraudulence despite often overwhelming evidence to the contrary.  It strikes smart, successful individuals.  It often rears its head after an especially notable accomplishment, like admission to a prestigious university, public acclaim, winning an award, or earning a promotion.

Orang yang mengalami kondisi ini dapat dilihat dari gejala berikut :

  1. Mengalami kesulitan dalam menerima pujian
  2. Merasa kesuksesan yang ia terima sepenuhnya berasal dari faktor eksternal saja
  3. Menjadi sangat perfeksionis
  4. Menghindari untuk menunjukkan kepercayaan diri
  5. Bekerja sampai melampaui batas
  6. Berfokus pada apa kegagalan yang terjadi dibandingkan dengan keberhasilan yang diraih

Faktor yang menyebabkan orang mengalami fenomena ini bisa beragam diantaranya faktor budaya dimana orang yang menunjukkan kemampuannya dianggap sombong, bisa juga faktor nilai keluarga yang menjunjung penghargaan sehingga anggota keluarga dituntut untuk tidak merasa puas akan hasil yang diperoleh, dan yang lainnya.

Fenomena ini tentu saja memiliki dampak yang tidak baik bagi kesuksesan kita. Impostor syndrom bisa membuat pribadi memiliki nilai kepercayaan diri yang rendah dan memblokir kesuksesan yang akan datang. Selai itu, kondisi ini membuat seseorang lebih menghargai pendapat negatif dari orang lain dan menjadikannya sebagai tolak ukur kemampuan diri sendiri yang bisa membuat seseorang berada dalam level kecemasan sosial.

Seperti yang dilansir dari laman verywellmind.com

This makes sense in terms of social anxiety if you received early feedback that you were not good at social or performance situations. Your core beliefs about yourself are so strong, that they don’t change, even when there is evidence to the contrary.

Fenomena impostor syndrom ini tidak memandang status sosial dan gender, siapa saja bisa mengalaminya. Kenali gejalanya dan tetap berfikir positif akan diri sendiri bisa menjadi cara menghindarinya kok.

Source :
www.fastcompany.com
www.scientificamerican.com
www.forbes.com
www.bustle.com
www.verywellmind.com


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: