Diderot Effect

Diderot Effect – Mengapa Kita Membeli Sesuatu Yang Tidak Dibutuhkan ?

Tidak sedikit dari kita membeli sesuatu karena kita menginginkannya entah dari segi barang yang menarik, harga diskon, atau sebagai pelengkap sesuatu yang sudah dimiliki. Namun, dari semua barang atau sesuatu yang kita miliki terkadang bukan merupakan barang yang benar-benar kita butuhkan. Hal ini yang dikenal sebagai Diderot Effect, sebelum mengenal lebih jauh tentang efek ini. Kita kenalan dulu dengan pencentusnya.

Berawal Dari Seorang Filsof

Denis Diderot - Diderot Effect

Danis Diderot merupakan seorang filsuf, pengamat seni, dan seorang penulis asal Prancis . Ia lahir pada October 1713 di LangresChampagne Prancis dari seorang ayah bernama Didier Diderot seorang pembuat alat pemotong dan seorang ibu bernama Angélique Vigneron. Dais Diderot juga dikenal sebagai pendiri Encyclopédie bersama dengan Jean le Rond d’Alembert.

Ia menjadi tokoh terkenal pada masa Enlighment atau masa pencerahan saat itu. Ia juga berteman dengan J.J Roseau saat itu. Ia menikah dengan seorang wanita bernama Antoinette Champion yang berkasta lebih rendah dan pernikahannya ditentang oleh ayahnya. Ia menghasilkan karya-karya seperti Regrets sur ma vieille robe de chambre (Regrets for my Old Dressing Gown), D’Alembert’s Dream (Le Rêve de d’Alembert), Dialog Filosofis meaning of life, Jacques le fataliste ditulis tahun 1773, dipublikasi tahun 1792 di German dan tahuh 1796 di Prancis, dan lainnya. 

Salah satu karya yang berjudul Regrets sur ma vieille robe de chambre (Regrets for my Old Dressing Gown) menjadi alasan munculnya Diderot Effect. Seperti yang dikutip dari www.marxists.org tentang penggalan isi karyanya tersebut

My old robe was one with the other rags that surrounded me. A straw chair, a wooden table, a rug from Bergamo, a wood plank that held up a few books, a few smoky prints without frames, hung by its corners on that tapestry. Between these prints three or four suspended plasters formed, along with my old robe, the most harmonious indigence.

All is now discordant. No more coordination, no more unity, no more beauty.

Diderot Effect Muncul Sebagai Efek Psikologis Konsumerisme

Diderot Effect Meaning

Dalam karyanya ia memunculkan adanya efek psikologis dari konsumerisme yang dilakukan oleh kaum pria pada masanya. Ia melihat bahwa perbedaan selera dan prasangka orang pada masanya yang mendorong tingkat konsumerisme dan pemborosan.

Selain itu Diderot sendiri merupakan orang kaya yang miskin. Hal ini tertulis dalam buku hariannya dimana ketika ia mendapatkan jaket sutra dari temannya, ia merasa bahwa perabotan di dalam rumahnya tidak lagi sesuai dengan jaket sutra merah yang ia miliki. Hal ini yang memicu Diderot untuk mengumpulkan uang untuk kemudian dihabiskan kembali demi membeli perabotan rumah yang cocok dengan jaket sutra miliknya.

Diderot records in his diary that he went to his poor apartment that evening and put on the jacket. He looked at the cheap wooden furniture, the peeling wallpaper in his apartment. Until that moment they had been acceptable. He realized that the jacket was the finest thing in his apartment, and that he loved the jacket. He loved it because it made him feel the way he wanted to feel in the future. Systematically, as Diderot gained more money, he began replacing everything in his apartment until all his possessions matched the quality of his silk smoking jacket.

Diderot menjelaskan bahwa dengan membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan akan menciptakan perasaan bahagia dan puas. Kecenderungan orang-orang di masanya paling memungkinkan dilihat pada masa sekarang dimana orang-orang akan membeli barang yang mereka inginkan hanya karena barang tersebut cocok dengan baju yang dipakainya atau melengkapi barang yang dimilikinya.

Source:
www.luxurysociety.com
www.openculture.com
www.huffingtonpost.com
www.marxists.org

 

COMMENTS

%d bloggers like this: