Metode Ilmiah Karya Ibn Al-Haytham

Tidak Ada Yang Menduga Siapa Yang Mendatangkan Metode Ilmiah Pertama Kali ? Pasti Tidak Ada Yang Pernah Mendengar Namanya

Metode yang kita pakai sekarang tidak mungkin datang begitu saja tanpa ada yang menemukan. Ya, namanya saja sejarah terkadang ada beberapa bahkan orang-orang yang tidak pernah tersebut dan tercatat dalam sejarah tidak dikenal sebagai penemunya. Metode penelitian ilmiah sudah ada jauh sebelum masehi dan didatangkan ke Eropa. Mungkin banyak buku pelajaran  yang hampir bahkan tidak pernah menyebutkan nama Al-Hasan Ibn Al-Haytham.

Ibn Al Haytham menulis metode ilmiah

Al-Hasan Ibn Al-Haytham Lahir di Basra wilayah selatan Irak tahun 965 M. Pada abad ke 11 ia pindah ke Kairo, Mesir untuk menjalan tugas yang diberikan oleh penguasa mesir saat itu yang dipimpin oleh khalifah saat itu. Ia mendapatkan tugas untuk mengatur aliran sungai nil di Mesir. Namun baginya tugas itu tidak mudah, sehingga khalifah harus menurunkan jabatannya sebagai pegawai administrasi. Selama menjadi pegawai administrasi, ia dinilai kurang oleh khalifah sehingga penguasa menjadi murka.

Untuk menghindari murka sang penguasa, Ibn Al-Haytham berpura-pura gila dan menjadi tahanan rumah. Baginya tidak ada yang lebih baik daripada itu dibanding dihukum mati karena tidak bisa menjalankan pekerjaannya. Selama ia menjadi tahanan ia mempu menuliskan banyak teks dan menemukan metode ilmu pengetahuan. Ia bisa menemukan bagaimana cahaya bisa tegak lurus, bagaimana cara kerja cermin, dan lainnya.

Isi Metode Ilmiah di Kitab Al-Manazir

Ia juga banyak menulis tentang ilmu pengetahuan lain dan menurut penelitian ada sekitar 40 judul buku ilmiah yang sudah ia hasilkan. Seperti Kitab Al-Manazir (Optic), walaupun temuan yang dilakukan terinspirai dari Ptolemy abad ke 2, namun teori dan metode yang dia kembangkan merupakan fakta yang ia lihat. Hal ini dikutib dari encyclopedia.com

 

bn al-Haytham’s most important work is Kitāb al-manāẓir (“Optics”). Although it shows some influence from Ptolemy’s 2nd century AD Optics, it contains the correct model of vision: the passive reception by the eyes of light rays reflected from objects, not an active emanation of light rays from the eyes. It combines experiment with mathematical reasoning, even if it is generally used for validation rather than discovery. The work contains a complete formulation of the laws of reflection and a detailed investigation of refraction, including experiments involving angles of incidence and deviation. Refraction is correctly explained by light’s moving slower in denser mediums. 

Menurutnya penerimaan pasif cahaya oleh mata dari cahaya yang dipantulkan oleh object bukan emanasi aktif dari cahaya, Ia menggabungkan teori matematika dan pembiasan sehingga temuannya dinilai masuk akal.

Mengapa bukan Eropa yang mengawali ? Bangsa Eropa dan Romawi mengalami Zaman Kegelapan atau Dark Ages dari tahun 500-1000 dimana banyak terjadi perang dan kematian dari penduduk kota. Pada Pada abad ke 9 sampai ke 13 ditandai sebagai zaman keemasan dari Bangsa Arab dimana salah satunya adalah Ibn Al-Haytam yang dikenal sebagai bapak ilmu pengetahuan modern karena kontribusinya yang besar terhadap ilmu pegetahuan. Dari masa itu banyak perubahan yang dibuat di dunia matematika, astronomi, fisika, medis dan lainnya.

Sayangnya masih banyak yang mempertanyakan tentang temuan ini. Sebagian besar mengatakan bahwa ilmu pengetahuan modern ini dimulai pada abad ke-17 dimana Rene Decartes dan Francis Bacon mengembangkan teori-teori ilmu pengetahuan modern. Tapi jauh sebelum mereka, ada yang terlebih dulu menemukan teori modern. Bahkan pemikir besar seperti salah satu bukunya berjudul Selenographia yang berisi tentang sifat-sifat bulan sudah dibaca oleh Galileo, kemudian buku mengenai Optiknya dibaca oleh Johanes Kepler, Roger Bacon dan yang lainnya.

Source :
www.britannica.com
www.encyclopedia.com
news.bbc.co.uk/2/hi/7810846.stm
curiosity.com

COMMENTS

%d bloggers like this: