Kimono : “Naru Suru” Culture Value of Japanese

http://e-biznes.info/pages/j/japanese-people-in-kimono/

Banyak orang di dunia sudah mengenal pakaian Kimono. Pakaian yang terdiri dari 2-3 lapis dan digunakan oleh sebagian besar orang -orang di Jepang untuk perayaan atau acara-acara tertentu. Sebenarnya kimono itu sendiri sudah lama ada sebelum era modern seperti sekarang dan dipakai oleh banyak wanita sehari-hari.

Di Jepang sendiri untuk pakaian dibagi menjadi 2 jenis : Wafuku (Pakaian tradisional Jepang) dan Youfuku (Pakaian modern) yang dipakai oleh orang jepang di masa modern ini. Kimono sendiri bagian dari wafuku yang dipakai oleh wanita Jepang. Di mana kimono jepang merupakan lambang feminitas dan kecantikan wanita yang menggunakannya.
Bentuk dan corak kimono dibuat dengan motif yang beragam seperti corak bunga, burung dan dengan warna-warna yang cerah. Pembuatan kimono itu sendiri dicocokkan dengan bentuk badan wanita. Itulah mengapa kimono dibuat dengan mengukur bentuk badan pemakai dan diberi beberapa aksesoris untuk mempercantiknya.
Aksesoris pelengkap yang dipakai dalam kimono wanita antara lain : Obi (Ikat pinggang besar yang melingkar di pinggang) dan Kanzashi (tusuk konde Jepang). Ternyata kimono tidak hanya melambangkan kosep keindahan orang jepang, tapi juga nilai budaya seperti yang dijelaskan dalam sebuah penelitian Yamanaka dalam A Companion to The Antrophology of Japan.

“This is not a distinction in clothing alone. Yamanaka says that, in order to understand the role of the kimono in Japanese culture, it is important to understand the West as having a suru bunka, a culture
that does things, whereas Japan has a naru bunka, a culture in which things become.”

Budaya Jepang lebih dikenal dengan Naru Bunka atau budaya untuk menjadikan sesuatu. Kimono bisa bertahan hingga sekarang, walaupun budaya barat juga sudah masuk di Jepang. Nilai budaya Jepang yang kuat bisa membuat budaya Jepang tetap terjaga.

Sumber :
Gidoni, Ofra Goldstein. 2005. “Fashion Cultural Identity : Body and Dress” dalam A Companion to The Antrophology of Japan hal. 153-166.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *